Satu Kata

Hanya Satu Kata

Archive for May 23rd, 2008

Model dan Gaya Bonsai Hias

Posted by frasa on May 23, 2008

Tentukan Kualitas Hasil Jadi
Keindahan bonsai memang dilihat dari harmonisasi antara akar batang cabang, daun hingga keluarnya bunga pada jenis tertentu. Dari unsur yang akan membantuk satu keindahan yang harus diperhatikan dan menjadi satu syarat penting adalah arah gerakan dari bonsai. Sebab arah gerakan akan menentukan tema apa yang harus kita ambil untuk pertumbuhan selanjutnya.
Kualitas bonsai secara keseluruhan memang dilihat dari empat unsur yaitu gerak dasar, keserasian, kematangan dan terakhir adalah penjiwaan. Dari keempat unsur ini gerak dasar akan menempati posisi pertama sebagai dasar dari pembentukan bonsai. Sebab garak dasar bisa diibaratkan sebagai karater asli dari satu tanaman.
Meski gerak dasar merupakan kombinasi antara akar batang cabang, dan daun tapi juga ikut menilai dari model dan gaya bonsai yang terbentuk. Disitu akan banyak sekali kreasi yang muncul apalagi bila didukung dengan bakalan yang berkualitas tinggi. Sebab bagaimana pun arah gerakan bonsai akan mengikuti dari bakalan. Langkah ini diambil untuk menghindari adanya gerakan yang saling bertolak belakang dimana akhirnya akan mengurangi komposisi keindahan bonsai.
Ditingkat seniman bonsai memang tidak ada pakem pasti tentang gaya bonsai termasuk arah gerakan yang di inginkan. Sebab sebagai produk seni tentu akan menyesuaikan dengan aspirasi sang empu yang tentu berbeda satu dengan lainnya. Pengaruh terbesar selain dari psikologis masing masing penghobi juga dari jenis tanaman yang dimiliki.
Namun secara umum ada beberapa model dan gaya bonsai yang menjadi dasar pergerakan. Meski sebagai dasar namun kreasi selanjutnya tentu tidak akan sama satu dengan lainnya. Sebab dari setiap bakalan membawa satu kreasi tersendiri. “Saat mencari bakalan, disana pebonsai harus sudah menentukan konsep apa dan gerakan mana yang akan dipilih,” aku Bambang Hermawan pebonsai asal Sidoarjo ini.
Memang diakui bahwa bakalan yang didapat seluruhnya berasal dari alam sehingga pebonsai sangat sulit untuk mencari bentuk yang di inginkan. Dari sulitnya mendapatkan bakalan yang sesuai dengan keinginan maka dituntut satu kepekaan untuk menentukan arah gerakan dari bakalan yang dimiliki.

Resiko Gaya Mengantung
Sebagai contoh untuk gaya turun/menggantung (cascade) sangat sulit di cari di alam sebab secara alami tanaman akan mengejar matahari dengan tumbuh keatas bukan menggantung. Darisitu untuk model gerakan menggantung harus mendapatkan bakalan yang sesuai dan itu biasanya berada di daerah tebing.
Kesultiannya adalah saat menginginkan gaya cascade namun tidak ada bakalan yang di miliki. Tentu solusinya adalah dengan melakukan kreasi dari bentuk asli menjadi bonsai yang bergaya menggantung. “Beberapa jenis bakalan bisa dilakukan proses penarikan batang namun hanya jenis tertentu saja,” imbuh Bambang. Jenis yang paling mudah untuk di tekuk biasanya dari jenis cemara seperti cemara duri yang masih lentur meski sudah berusia puluhan tahun.
Sebab untuk jenis ini punya kambium yang bisa diputar melingkar tanpa merusak peredaran nutrisi didalamnya. Selain itu jenis kawista juga punya struktur batang dan cabang yang lebih lentur. Namun untuk jenis lainnya jangan coba-coba untuk melakukannya sebab bila cabang patah maka pertumbuhan keatas seluruhnya akan mati antara lain untuk jenis sentigi.
Untuk pembentukan pada gaya cascade disitu top mahkota (kepala) tidak boleh lebih dari bibir pot untuk setengah menggantung. Namun untuk menggantung penuh maka kepala harus lebih dari bibir pot. Proses pengolahan yang harus disesuaikan untuk gaya ini adalah membuat cabang dan ranting untuk menyesuaikan dengan karakter batang yang menurun.
Gaya Tegak Lebih Aman
Gaya lain yang juga banyak diambil adalah bentuk yang lurus naik/tegak (bunjin). Gaya ini paling banyak diambil sebab akan menyesuaikan dnegan pertumbuhan tanaman yang mencari sinar matahari. Selain itu kreasi tekuk batang lewat proses pengkawatan (wiring) juga lebih sedikit.
Untuk gaya bunjin ini memang punya bentuk yang cukup ramah dimata atau familiar. Sebab gerakan yang keluar hampir sama dengan bentuk kecil dari pohon beringin dan tentunya makin mudah di mengerti tentu pasar yang diambil akan jauh lebih banyak
Dari gaya keatas ini yang harus diperhatikan adalah arah percabangan dari ranting dimana penentuan kepala harus tepat. Sebab semakin keatas jarak antar cabang semakin rapat sehingga harus ada konsep arah yang tepat terutama untuk bagian ranting. “Salah pada proses ranting bisa membuat bentuk kepala bonsai tidak tepat,” imbuh Bambang.
Pembentukan bonsai dengan gaya tegak lurus harus diawali dengan menentukan cabang yang akan digunakan sebagai kepala. Disitu batang yang berada diatasnya harus dipotong. Untuk pemotongan sebaiknya mengarah ke samping atau belakang agar bekas potongan tidak terlihat dari depan.

Gaya Miring Tampak Natural
Gaya lain yang juga banyak disukai adalah gaya miring. Untuk gerakan ini memang cukup digemari karena akan mengesankan tanaman ini tumbuh alami seperti halnya pohon yang hidup di lereng atau lahan yang miring.
Untuk menggarap teknik miring syaratnya bonsai harus mempunyai pangkal batang yang lebih besar dari pada pucuk batang. Ini diambil untuk memberikan kesan kuat untuk menahan posisi pohon. Bila pohon miring ke kanan berarti akar harus menjalar lebih kuat kearah kiri. Begitu juga sebaliknya untuk keseimbangan antar akar dan batang.
Untuk arah pertumbuhan cabang sendiri masih sama seperti halnya gaya bunjin namun untuk cabang dan ranting bonsai yang miring ke kanan harus lebih besar dibandingkan dengan bagian yang kiri. Begitu juga sebaliknya untuk mempertegas kesan miring pada batang dan keseimbangan pohon dengan akarnya.
Pembentukan untuk gaya miring sendiri bisa dibuat dengan pengkawatan pada batang dan ditarik untuk merubah arah tumbuh kesamping. Dari proses ini maka secara perlahan batang akan tumbuh miring dengan sendirinya. Untuk cabang yang tidak diinginkan sebaiknya dibuang. Arah percabangan lebih baik bila di sejajarkan dengan permukaan tanah  
“Pada gaya miring ini juga bisa dikombinasikan dengan gaya tertiup angin dimana cabang dan ranting juga mengikuti arah batang untuk mengesankan tanaman sedang tertiup angin,” pungkas Bambang. [wo2k]

Sumber : http://tabloidgallery.wordpress.com/2008/02/26/model-dan-gaya-bonsai/

Posted in Agribisnis | Tagged: , , | 3 Comments »

kompas.com : Apa yang Menarik di Batam? (2)

Posted by frasa on May 23, 2008

Jembatan 1 Beralang“Enam Bersaudara” Jembatan Barelang

Bicara soal jembatan, sebuah “ikon” Kota Batam yang ditawarkan John, sopir yang mengantar saya menelusuri jalan lurus menuju Pulau Galang, saya teringat Golden Gate Bridge di Teluk San Francisco, Amerika Serikat, yang menghubungkan San Francisco dengan California. Seperti itukah Jembatan Barelang?

Dari kejauhan, saya belum melihat Jembatan Barelang. Tetapi dua pucuknya di kiri dan kanan menjulang ke langit membentuk kerucut, terlihat samara dari kejauhan. Pucuk kerucut sampai ke jalan raya mencapai 200 meter. Alangkah tingginya pucuk itu, gumam saya. Melihat pucuk yang menjadi titik tumpu kekuatan itu, saya juga teringat “ikon” baru Kota Bandung berupa jembatan layang di atas Pasteur.

            “Itulah jembatan pertama dari enam Jembatan Barelang, Pak,” kata John dengan pandangan tertuju ke depan.
            “Apakah lima jembatan lainnya juga menjulang setinggi itu?”
            John menjawab, “Tidak, hanya jambatan inilah yang terbagus. Lainnya biasa saja.”

Hemh, boleh juga Kota Batam ini, pikir saya. Tapi persoalan yang saya baca dari hari ke hari, adalah wajah industri Batam yang semakin muram. Banyak investor yang semula terkonsentrasi di Kawasan Industri Batamindo Muka Kuning, hengkang ke negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam. Alasan investor, karena adanya dualisme aturan yang membingungkan dunia usaha; aturan Pemerintah Kota Batam dan aturan Otorita Batam. Kerap karena ingin saling unjuk pengaruh, masing-masing aturan saling berbenturan, bukan malah saling melengkapi dan mendukung.

Pemerintah pusat bukannya tidak mengetahui persoalan ini. Pernah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyapa dan mengundang kembali para pengusaha agar menanamkan modalnya di Batam, bukannya di negara tetangga. Tetapi dalam dunia bisnis, imbauan penguasa atau raja sekalipun belumlah cukup. Para pengusaha tidak butuh cumbu rayu atau pemanis kata-kata penguasa. Yang mereka butuhkan adalah aturan yang tegas, aturan yang tidak membingungkan, aturan yang tidak mendua.

Mereka, para pengusaha itu, tidak keberatan dengan membayar pajak, asalkan pajak yang jelas, bukan “pajak siluman” yang harus menjadi beban pengusaha, mulai “pajak siluman” dari oknum aparat keamanan, oknum legislatif dan eksekutif, bahkan “uang keamanan” untuk sejumlah organisasi massa. Kalau para pengusaha sudah pada lari ke luar negeri, akibatnya sangat mengerikan.

Selain akan dipenuhi para pengangguran, Batam hanya akan menjadi rongsokan pabrik yang kosong di Muka Kuning. Akibatnya, tidak ada lagi pemasukan bagi kas daerah yang kelak mungkin hanya mengandalkan sektor wisata yang tidak seberapa nilainya karena tidak pernah digarap serius. Contohnya ya enam Jembatan Barelang ini.

Jembatan ini dibiarkan terentang apa adanya, sekadar pelepas penat warga Batam yang ingin menghirup udara segar di atasnya sambil memandang laut dan pulau-pulau kecil di bawahnya. Barelang yang dirancang sebagai kawasan industri terbesar negeri ini, hanya tinggal rencana di atas kertas. Ini kenyataan yang tak terbantahkan, paling tidak sampai saat ini.

Sinyal GSM yang memungkinkan ponsel internet bisa beroperasi sudah mulai putus. Tetapi beruntung tadi saya sempat membaca bahwa adanya Jembatan Barelang berkat jasa dan ide Pak Habibie. Beliau adalah mantan Presiden RI yang hanya menjabat 2,5 tahun sebelum digantikan Abdurrahman Wahid. Tetapi orang lebih mengenang Habibie sebagai “jagoan teknologi”, teknokrat ulung yang mengembangkan pabrik pesawat IPTN di Bandung, meski kemudian pabrik pesawat terbang yang berganti nama menjadi PT Dirgantara Indonesia (DI) itu kini merana.

Sebanyak 50 insinyur aeronotika godokan IPTN sudah hengkang ke Malaysia, diiming-imingi pekerjaan dan kehidupan yang layak. Jangan heran, setelah memproduksi  mobil Proton yang sudah berserakan di jalan-jalan Jakarta, sebentar lagi negeri jiran ini sudah bangga dengan pesawat produksi sendiri. Ratusan insinyur IPTN lainnya bekerja di pabrik-pabrik pesawat Amerika Serikat, Perancis, Inggris, Spanyol, Brasil, dan negara lainnya. Ketika Habibie lengser dan nyaris tidak punya pengaruh apa-apa lagi, “menara pasir” tanpa fondasi kuat yang didirikannya pun ikut tersapu angin. Kalaupun masih ada, itu tinggal rangka-rangkanya saja.

Habibie adalah teknologi dan teknologi adalah Habibie. Di Jembatan Barelang yang sebentar lagi akan saya injak, saya kembali teringat jasa Pak Habibie. Bagaimanapun, beliau punya konsep mengenai Batam, Rempang dan Galang ini, yang bermaksud tidak hanya membangun Pulau Batam yang sudah penuh sesak dan jenuh, tetapi dengan melebarkan kawasan industri sampai ke Pulau Rempang dan Pulau Galang. Bahwa cita-cita tidak kesampaian, itu soal lain.

Saya percaya, ini bukan proyek tanpa konsep. Ada dasar pemikiran kuat, meski akhirnya saya tidak melihat perpindahan kawasan industri itu ke Pulau Rempang dan Pulau Galang. Kawasan industri tetap saja umpel-umpelan di Kawasan Industri Batamindo Muka Kuning, Pulau Batam.

Nama resmi Jembatan Barelang itu sendiri sebenarnya Jembatan Tengku Fisabilillah, Raja yang memerintah Kerajaan Melayu Riau pada abad 15 hingga 18. Tetapi penduduk Batam dan sekitarnya terbiasa menyebut Jembatan Habibie, merujuk pada si empunya gagasan. Jembatan pertama yang ternyata kokoh namun indah ini menghubungkan Pulau Batam dengan Pulau Tonton di titik terujungnya.

Membentang sepanjang 642 meter, jembatan yang mulai dibangun tahun 1992 itu tidak lebih dari jembatan gantung yang atasnya terentang kabel-kabel baja. Beberapa pilar beton raksasa ditanamkan ke dasar laut untuk menyangga badan jalan dengan empat jalur kendaraan di atasnya itu. Kabel-kabel baja sebesar lengan terikat di tepi jalan dengan jarak yang sudah dihitung, lalu seluruh ujungnya terkumpul di satu titik di atas puncak tonggak setinggi 200 meter.

Kalau dilihat dari jauh, nampaklah jembatan pertama Jembatan Barelang ini seperti jaring raksasa penjerat burung berbentuk segitiga, atau dilihat lebih jauh lagi, tampak seperti bayangan transparan piramida Mesir yang muncul dari permukaan laut!

John bercerita, kalau sore hari atau hari libur lainnya, jembatan ini penuh sesak oleh warga Batam dan pelancong yang menghabiskan waktu “menyantap” bulatan matahari kekuningan tergelincir di ufuk barat.
           
            “Jadi kami boleh berhenti di Jembatan  Habibie ini, John?” tanya saya.
            “Tentu, Pak, saya ajak Bapak ke sini ini memang untuk menikmatinya. Silakan!” Toyota berkursi 14 yang tidak beredar di Jakarta ini menepi di kiri jalan. Saat menepi, beberapa pedagang asongan yang menawarkan gorengan udang dan gorengan kepiting menghampiri.
            “View first, then cullinaire,” pikir saya. Lantas saya pun mengeluarkan Canon saku saya dan mulai membidik sana-sini. Setelah itu, barulah saya berpaling ke pedagang asongan tadi.

Saya tertarik dengan penganan itu bukan karena lapar, tetapi karena cara penyajiannya yang mengundang penasaran. Lima udang dijajarkan dan seperti menempel di lidi, kemudian digoreng dengan tepung berwarna kuning. Hasilnya adalah goreng udang tepung yang berongga besar dengan lidi sebagai “porosnya”. Pedagang menawarkan Rp 10.000 untuk empat gorengan udang. Satu lagi gorengan kepiting besesar telapak tangan berwarna merah saga. Baru kali ini saya melihat kepiting diperlakukan seperti itu, yakni digoreng dengan tepung. Harganya lumayan mahal, Rp 25.000 per ekornya.

Saya tidak tertarik membelinya. Bukan karena saya tidak suka udang dan kepiting, tetapi karena tujuan saya ke Pulau Galang, tempat ribuan pengungsi Vietnam bernaung, belum tercapai. Lagi pula John memberi second opinion terhadap kepiting malang itu.

            “Dua puluh lima ribu untuk sejentik daging kepiting, rasanya terlalu mahal, Pak,” katanya.

Saya tidak mau mendebat John, tetapi saya ingin buru-buru melintasi empat jembatan lainnya agar bisa segera sampai ke Pulau Galang, pulau dimana gadis Vietnam bernama Nguyen hidup dalam bayang fantasi saya.

(bersambung)

sumber : kompas.com (Wartawan Kompas Pepih Nugraha )

Posted in Satu Kata | Leave a Comment »

kompas.com : Apa yg menarik di batam(1)

Posted by frasa on May 23, 2008

COASTARINABerikut artikel tentang batam yg saya sadur dari kompas.com, ya bagi yg ingin tahu tentang batam mungkin disini bisa lihat gambaranya sedikit… wah jadi pengen pulang ke batam nih he he..

Berkunjung Ke Pulau “Nguyen”“Dimana tempat wisata terkenal di Batam ini?” Itu pertanyaan pertama yang saya lontarkan pada resepsionis di Hotel Nagoya Plaza. Saya berharap mendapat jawaban yang memuaskan karena saya hanya punya satu hari saja di Batam. Tetapi si resepsionis malah bertanya, “Aduh, dimana ya?”Kalau Anda ke Batam, mungkin akan kesulitan mencari brosur tempat wisata mana yang baik buat city tour. Untunglah saat berkunjung ke Patria Tour yang masih bersebelahan dan bahkan satu atap dengan Hotel Nagoya Plaza, dua gadis belia yang saya temui dengan responsif menjelaskan kemungkinan saya berkunjung ke Barelang. Itu bukan saudara kembar “belerang”, tetapi singkatan dari Batam-Rempang-Galang. Dulu tiga pulau yang berdekatan ini bagian dari Provinsi Riau, tetapi setelah pemekaran kini masuk ke Provinsi Kepulauan Riau.

 

 

            “Pulau Galang?” Tanya saya.
            “Benar. Pulau Galang. Di sana Bapak bisa menemukan barak bekas pengungsi Vietnam, dimana sebelumnya Bapak akan melewati enam Jembatan Balerang,” jawabnya langsung ke sasaran.

Ah, Pulau Galang. Pengungsi Vietnam. Sejenak ingatan melayang ke masa lalu, 23 tahun lalu. Saat duduk di bangku perguruan tinggi, saya pernah membaca sebuah novel bersampul merah dengan judul, kalau tidak keliru, “Mendung Di Atas Vietnam” Saya lupa siapa penulisnya. Judulnya pun mungkin tidak tepat begitu. Tetapi isi ceritanya yang masih saya ingat benar sampai sekarang!

 

Novel lawas itu bercerita tentang pengorbanan cinta gadis belia pengungsi Vietnam bernama Nguyen yang terdampar di Pulau Galang, sebuah pulau berjarak kurang lebih 80 kilometer dari Pulau Batam. Nguyen telah kehilangan semua saudara-sadara dekatnya karena dibantai rezim komunis saat itu. Ia diselamatkan tetangganya dan dinaikkan ke kapal kecil, lebih tepat disebut tongkang kayu, untuk berlayar tanpa tujuan asalkan bisa keluar dari neraka Vietnam.

Nguyen. Kalau saja saat itu si pengarang tahu wajah aktris Malaysia Michelle Yeoh, mungkin ia akan sepikiran dengan Andrea Hirata dalam menggambarkan Nguyen sebagai si cantik Yeoh. Tapi saat novel itu disusun, Yeoh mungkin masih mengenakan celana monyet atau kemana-mana tanpa “bra” karena memang masih kanak-kanak.

            “Benarkah reruntuhan barak dan bekas-bekas pengungsi Vietnam masih tersisa di Pulau Galang?” tanya saya lagi.
            “Saya tidak bisa cerita banyak kecuali Bapak mengunjunginya,” katanya.

            Ah Nguyen!

Saya coba mengingat lagi Nguyen di novel yang saya baca dan saya beli dari Pasar Palasari Bandung itu. Seorang gadis yang dengan sukarela menyerahkan kegadisannya kepada pria pribumi, yakni si tokoh aku, seorang perjaka “toloheor” (kata orang Sunda) alias play boy berat. “Aku yakin semua gadis Vietnam sudah tidak perawan bahkan sebelum sampai ke Pulau Galang. Apalagi setelah sampai di Pulau Galang, gadis pengungsi Vietnam biasa menyerahkan tubuhnya kepada penguasa untuk menjaga kelangsungan hidupnya,” demikian kira-kira si tokoh aku berprasangka.

Si tokoh aku hanya main-main saja mencintai Nguyen, sebaliknya Nguyen mencintai si aku, pria Indonesia itu, dengan tulus. Si pria Indonesia sudah terlalu sering gonta-ganti perempuan, dan masih menganggap Nguyen “korban berikutnya”. Waktu pun tiba, dalam kesenyapan malam dan temaram bulan yang menyelinap hutan Pulau Galang, si pria Indonesia bergumam setelah melampiaskan hasratnya. “Nguyen, rupanya kau masih perawan!” Dan Nguyen hanya bisa terisak…

Nah, itulah novel. Tetapi beberapa saat lagi, saya akan segera menemui jejak-jejak maya Nguyen, sebuah sosok entah ada entah tiada, hanya penulis novel itu sendiri yang tahu. Apa pedulinya. Yang jelas, saya akan segera berkunjung ke Pulau Galang yang pada tahun 1979 dijadikan tempat berlabuh ribuan pengungsi Vietnam akibat prahara politik di sana. Di benak saya, Nguyen “masih hidup” dan ada di pulau itu.

Saya sepakat begitu saja untuk menyewa sebuah mobil travel seharga Rp 600.000 plus sopir. Kapasitas mobil itu 14 sampai 17 orang. Tetapi, saat mobil mulai melesat menuju jalan lurus dan mulus menuju Pulau Galang, hanya terisi tiga orang saja. Saya, istri saya, dan sopir bernama John. Setidak-tidaknya itulah yang tertulis di kartu namanya. Padahal nama aslinya Ahmad Furqon.

            “Saya tidak tahu panggilan saya John, tetapi dulu guru SMP saya sering memanggil saya John,” kata Furqon, eh… John, saat mobil masih terhadang satu lampu lalu lintas di Jalan Imam Bonjol, Batam.
            “Nah, kita siap-siap menuju Jembatan Barelang sebelum singgah ke Pulau Galang,” kata John.
            “Apa istimewanya sebuah jembatan?” Tanya saya.
            “Bukan ‘sebuah’, enam jambatan, Pak.”

Enam, sepuluh, seratus, berapapun jumlahnya jembatan sama saja… gumam hati saya saat duduk di samping kiri John. John mengemudi agak serabutan. Istri saya di belakang terperangkap kantuk akibat AC mobil yang sejuk, sementara di luar udara amat menyengat, padahal baru pukul 10.00, Selasa, 20 Mei 2008 lalu.

            “Jembatan ini sekarang menjadi simbol Batam, Pak, bukan pabrik lagi,” katanya. Diam-siam saya keluarkan ponsel internet saya, menelusur di Google Mobile dan memasukkan kata kunci “Jembatan Barelang”. Got it! Saat John berceloteh tentang jembatan itu, saya sudah langsung memahaminya hanya lewat ponsel internet di telapak tangan. Terima kasih, teknologi informasi!

            “Jembatan itu dibangun atas ide dan inisiatif Pak Habibie ‘kan, John?”
            John menoleh, “Kok Bapak Tahu?”
            “Mulai dibangun tahun 1992 dan orang Batam menyebutnya ‘Jembatan Habibie’!”
            “Ah, Bapak malah lebih tahu!”

Saya tertawa ngakak, entah mengagumi teknologi internet atau menertawakan ketidaktahuan John kalau saya tengah berselancar melalui ponsel berinternet. Saya yakinkan John bahwa meskipun tahu sejarahnya, tetapi belum tahu ujudnya.
            “Sekarang saya ingin tahu ‘wajah’ jembatan itu,” kata saya.
            “Cantik, Pak, kita segera menuju ke sana…”

(bersambung)

sumber: kompas.com (Wartawan Kompas Pepih Nugraha )

Posted in Satu Kata, Sosial & Budaya | Tagged: , , | Leave a Comment »