Satu Kata

Hanya Satu Kata

Archive for the ‘Satu Kata’ Category

Hari pertama sekolah

Posted by frasa on July 17, 2008

Ngga terasa zea uda SD,
ya.. putri saya yg pertama memang sudah SD.. mulai dari hari pendaftaran dia memang sudah antusias, katanya sudah bosan di TK (karena uda 2 thn kali).

Sekolah pilihannya adalah sekolah negeri unggulan (SSN = Sekolah standar nasional) di daerah saya, jadi untuk tahun ini penerimaan di batasi 105 murid atau 3 kelas saja.
Karena batasan tersebut dan saking banyaknya pendaftar sekolah mengadakan test masuk sekolah padahal untuk SD di sekitarnya kalau daftar bisa di pastikan lansung diterimah.. karena takut anaknya ngga diterimah kami mendaftarkan putri kami di dua sekolah.. yg utama tetap sekolah pilihanya karena temen2 nya banyak disana.

Alhamdulillah dia bisa diterima di sekolah pilihanya.. sepertinya dia sudah ngga sabaran mulai hari pertama sekolah.. sampai menghitung hari.. dan berputar2 di kaca nyobain seragam putih merahnya..

saya dan istri hanya tersenyum melihat kebahagiannya.. dalam hati saya bergumam ngga terasa anak kami sudah SD.. ngga terasa sudah 7 tahun kami menikah..

Bersyukurla kita yang masih bisa melihat anak kita bisa melangkah sekolah dengan senangnya..
karena ternyata masih banyak di sekitar kita yang masih kesulitan menyekolahkan anaknya.. karena banyak sekolah yang memungut biaya masuk atau biaya baju seragam, biaya pendidikan serta buku paket dsb nya.. yang bagi sebagian orang sulit untuk memenuhi kebutuhan tersebut.. untuk ukuran anak yang sudah dewasa mungkin dia mengerti kalau di jelaskan orang tuanya kalau dia kesulitan keuangan.. tapi utk anak yang masih 6 – 7 thn.. dia taunya ingin sekolah seperti temen2nya

Jadi bagi saudara sekalian yang punya rezki lebih mungkin bisa berbagi dgn tetangga utk meringankan beban mereka terutama anak2 yang sangat membutuhkan pendidikan… marilah mulai dari sekitar kita.. alankah indah nya bila kita berbagi

Posted in Satu Kata, Sosial & Budaya | Tagged: , | Leave a Comment »

kompas.com : Apa yang Menarik di Batam? (2)

Posted by frasa on May 23, 2008

Jembatan 1 Beralang“Enam Bersaudara” Jembatan Barelang

Bicara soal jembatan, sebuah “ikon” Kota Batam yang ditawarkan John, sopir yang mengantar saya menelusuri jalan lurus menuju Pulau Galang, saya teringat Golden Gate Bridge di Teluk San Francisco, Amerika Serikat, yang menghubungkan San Francisco dengan California. Seperti itukah Jembatan Barelang?

Dari kejauhan, saya belum melihat Jembatan Barelang. Tetapi dua pucuknya di kiri dan kanan menjulang ke langit membentuk kerucut, terlihat samara dari kejauhan. Pucuk kerucut sampai ke jalan raya mencapai 200 meter. Alangkah tingginya pucuk itu, gumam saya. Melihat pucuk yang menjadi titik tumpu kekuatan itu, saya juga teringat “ikon” baru Kota Bandung berupa jembatan layang di atas Pasteur.

            “Itulah jembatan pertama dari enam Jembatan Barelang, Pak,” kata John dengan pandangan tertuju ke depan.
            “Apakah lima jembatan lainnya juga menjulang setinggi itu?”
            John menjawab, “Tidak, hanya jambatan inilah yang terbagus. Lainnya biasa saja.”

Hemh, boleh juga Kota Batam ini, pikir saya. Tapi persoalan yang saya baca dari hari ke hari, adalah wajah industri Batam yang semakin muram. Banyak investor yang semula terkonsentrasi di Kawasan Industri Batamindo Muka Kuning, hengkang ke negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam. Alasan investor, karena adanya dualisme aturan yang membingungkan dunia usaha; aturan Pemerintah Kota Batam dan aturan Otorita Batam. Kerap karena ingin saling unjuk pengaruh, masing-masing aturan saling berbenturan, bukan malah saling melengkapi dan mendukung.

Pemerintah pusat bukannya tidak mengetahui persoalan ini. Pernah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyapa dan mengundang kembali para pengusaha agar menanamkan modalnya di Batam, bukannya di negara tetangga. Tetapi dalam dunia bisnis, imbauan penguasa atau raja sekalipun belumlah cukup. Para pengusaha tidak butuh cumbu rayu atau pemanis kata-kata penguasa. Yang mereka butuhkan adalah aturan yang tegas, aturan yang tidak membingungkan, aturan yang tidak mendua.

Mereka, para pengusaha itu, tidak keberatan dengan membayar pajak, asalkan pajak yang jelas, bukan “pajak siluman” yang harus menjadi beban pengusaha, mulai “pajak siluman” dari oknum aparat keamanan, oknum legislatif dan eksekutif, bahkan “uang keamanan” untuk sejumlah organisasi massa. Kalau para pengusaha sudah pada lari ke luar negeri, akibatnya sangat mengerikan.

Selain akan dipenuhi para pengangguran, Batam hanya akan menjadi rongsokan pabrik yang kosong di Muka Kuning. Akibatnya, tidak ada lagi pemasukan bagi kas daerah yang kelak mungkin hanya mengandalkan sektor wisata yang tidak seberapa nilainya karena tidak pernah digarap serius. Contohnya ya enam Jembatan Barelang ini.

Jembatan ini dibiarkan terentang apa adanya, sekadar pelepas penat warga Batam yang ingin menghirup udara segar di atasnya sambil memandang laut dan pulau-pulau kecil di bawahnya. Barelang yang dirancang sebagai kawasan industri terbesar negeri ini, hanya tinggal rencana di atas kertas. Ini kenyataan yang tak terbantahkan, paling tidak sampai saat ini.

Sinyal GSM yang memungkinkan ponsel internet bisa beroperasi sudah mulai putus. Tetapi beruntung tadi saya sempat membaca bahwa adanya Jembatan Barelang berkat jasa dan ide Pak Habibie. Beliau adalah mantan Presiden RI yang hanya menjabat 2,5 tahun sebelum digantikan Abdurrahman Wahid. Tetapi orang lebih mengenang Habibie sebagai “jagoan teknologi”, teknokrat ulung yang mengembangkan pabrik pesawat IPTN di Bandung, meski kemudian pabrik pesawat terbang yang berganti nama menjadi PT Dirgantara Indonesia (DI) itu kini merana.

Sebanyak 50 insinyur aeronotika godokan IPTN sudah hengkang ke Malaysia, diiming-imingi pekerjaan dan kehidupan yang layak. Jangan heran, setelah memproduksi  mobil Proton yang sudah berserakan di jalan-jalan Jakarta, sebentar lagi negeri jiran ini sudah bangga dengan pesawat produksi sendiri. Ratusan insinyur IPTN lainnya bekerja di pabrik-pabrik pesawat Amerika Serikat, Perancis, Inggris, Spanyol, Brasil, dan negara lainnya. Ketika Habibie lengser dan nyaris tidak punya pengaruh apa-apa lagi, “menara pasir” tanpa fondasi kuat yang didirikannya pun ikut tersapu angin. Kalaupun masih ada, itu tinggal rangka-rangkanya saja.

Habibie adalah teknologi dan teknologi adalah Habibie. Di Jembatan Barelang yang sebentar lagi akan saya injak, saya kembali teringat jasa Pak Habibie. Bagaimanapun, beliau punya konsep mengenai Batam, Rempang dan Galang ini, yang bermaksud tidak hanya membangun Pulau Batam yang sudah penuh sesak dan jenuh, tetapi dengan melebarkan kawasan industri sampai ke Pulau Rempang dan Pulau Galang. Bahwa cita-cita tidak kesampaian, itu soal lain.

Saya percaya, ini bukan proyek tanpa konsep. Ada dasar pemikiran kuat, meski akhirnya saya tidak melihat perpindahan kawasan industri itu ke Pulau Rempang dan Pulau Galang. Kawasan industri tetap saja umpel-umpelan di Kawasan Industri Batamindo Muka Kuning, Pulau Batam.

Nama resmi Jembatan Barelang itu sendiri sebenarnya Jembatan Tengku Fisabilillah, Raja yang memerintah Kerajaan Melayu Riau pada abad 15 hingga 18. Tetapi penduduk Batam dan sekitarnya terbiasa menyebut Jembatan Habibie, merujuk pada si empunya gagasan. Jembatan pertama yang ternyata kokoh namun indah ini menghubungkan Pulau Batam dengan Pulau Tonton di titik terujungnya.

Membentang sepanjang 642 meter, jembatan yang mulai dibangun tahun 1992 itu tidak lebih dari jembatan gantung yang atasnya terentang kabel-kabel baja. Beberapa pilar beton raksasa ditanamkan ke dasar laut untuk menyangga badan jalan dengan empat jalur kendaraan di atasnya itu. Kabel-kabel baja sebesar lengan terikat di tepi jalan dengan jarak yang sudah dihitung, lalu seluruh ujungnya terkumpul di satu titik di atas puncak tonggak setinggi 200 meter.

Kalau dilihat dari jauh, nampaklah jembatan pertama Jembatan Barelang ini seperti jaring raksasa penjerat burung berbentuk segitiga, atau dilihat lebih jauh lagi, tampak seperti bayangan transparan piramida Mesir yang muncul dari permukaan laut!

John bercerita, kalau sore hari atau hari libur lainnya, jembatan ini penuh sesak oleh warga Batam dan pelancong yang menghabiskan waktu “menyantap” bulatan matahari kekuningan tergelincir di ufuk barat.
           
            “Jadi kami boleh berhenti di Jembatan  Habibie ini, John?” tanya saya.
            “Tentu, Pak, saya ajak Bapak ke sini ini memang untuk menikmatinya. Silakan!” Toyota berkursi 14 yang tidak beredar di Jakarta ini menepi di kiri jalan. Saat menepi, beberapa pedagang asongan yang menawarkan gorengan udang dan gorengan kepiting menghampiri.
            “View first, then cullinaire,” pikir saya. Lantas saya pun mengeluarkan Canon saku saya dan mulai membidik sana-sini. Setelah itu, barulah saya berpaling ke pedagang asongan tadi.

Saya tertarik dengan penganan itu bukan karena lapar, tetapi karena cara penyajiannya yang mengundang penasaran. Lima udang dijajarkan dan seperti menempel di lidi, kemudian digoreng dengan tepung berwarna kuning. Hasilnya adalah goreng udang tepung yang berongga besar dengan lidi sebagai “porosnya”. Pedagang menawarkan Rp 10.000 untuk empat gorengan udang. Satu lagi gorengan kepiting besesar telapak tangan berwarna merah saga. Baru kali ini saya melihat kepiting diperlakukan seperti itu, yakni digoreng dengan tepung. Harganya lumayan mahal, Rp 25.000 per ekornya.

Saya tidak tertarik membelinya. Bukan karena saya tidak suka udang dan kepiting, tetapi karena tujuan saya ke Pulau Galang, tempat ribuan pengungsi Vietnam bernaung, belum tercapai. Lagi pula John memberi second opinion terhadap kepiting malang itu.

            “Dua puluh lima ribu untuk sejentik daging kepiting, rasanya terlalu mahal, Pak,” katanya.

Saya tidak mau mendebat John, tetapi saya ingin buru-buru melintasi empat jembatan lainnya agar bisa segera sampai ke Pulau Galang, pulau dimana gadis Vietnam bernama Nguyen hidup dalam bayang fantasi saya.

(bersambung)

sumber : kompas.com (Wartawan Kompas Pepih Nugraha )

Posted in Satu Kata | Leave a Comment »

kompas.com : Apa yg menarik di batam(1)

Posted by frasa on May 23, 2008

COASTARINABerikut artikel tentang batam yg saya sadur dari kompas.com, ya bagi yg ingin tahu tentang batam mungkin disini bisa lihat gambaranya sedikit… wah jadi pengen pulang ke batam nih he he..

Berkunjung Ke Pulau “Nguyen”“Dimana tempat wisata terkenal di Batam ini?” Itu pertanyaan pertama yang saya lontarkan pada resepsionis di Hotel Nagoya Plaza. Saya berharap mendapat jawaban yang memuaskan karena saya hanya punya satu hari saja di Batam. Tetapi si resepsionis malah bertanya, “Aduh, dimana ya?”Kalau Anda ke Batam, mungkin akan kesulitan mencari brosur tempat wisata mana yang baik buat city tour. Untunglah saat berkunjung ke Patria Tour yang masih bersebelahan dan bahkan satu atap dengan Hotel Nagoya Plaza, dua gadis belia yang saya temui dengan responsif menjelaskan kemungkinan saya berkunjung ke Barelang. Itu bukan saudara kembar “belerang”, tetapi singkatan dari Batam-Rempang-Galang. Dulu tiga pulau yang berdekatan ini bagian dari Provinsi Riau, tetapi setelah pemekaran kini masuk ke Provinsi Kepulauan Riau.

 

 

            “Pulau Galang?” Tanya saya.
            “Benar. Pulau Galang. Di sana Bapak bisa menemukan barak bekas pengungsi Vietnam, dimana sebelumnya Bapak akan melewati enam Jembatan Balerang,” jawabnya langsung ke sasaran.

Ah, Pulau Galang. Pengungsi Vietnam. Sejenak ingatan melayang ke masa lalu, 23 tahun lalu. Saat duduk di bangku perguruan tinggi, saya pernah membaca sebuah novel bersampul merah dengan judul, kalau tidak keliru, “Mendung Di Atas Vietnam” Saya lupa siapa penulisnya. Judulnya pun mungkin tidak tepat begitu. Tetapi isi ceritanya yang masih saya ingat benar sampai sekarang!

 

Novel lawas itu bercerita tentang pengorbanan cinta gadis belia pengungsi Vietnam bernama Nguyen yang terdampar di Pulau Galang, sebuah pulau berjarak kurang lebih 80 kilometer dari Pulau Batam. Nguyen telah kehilangan semua saudara-sadara dekatnya karena dibantai rezim komunis saat itu. Ia diselamatkan tetangganya dan dinaikkan ke kapal kecil, lebih tepat disebut tongkang kayu, untuk berlayar tanpa tujuan asalkan bisa keluar dari neraka Vietnam.

Nguyen. Kalau saja saat itu si pengarang tahu wajah aktris Malaysia Michelle Yeoh, mungkin ia akan sepikiran dengan Andrea Hirata dalam menggambarkan Nguyen sebagai si cantik Yeoh. Tapi saat novel itu disusun, Yeoh mungkin masih mengenakan celana monyet atau kemana-mana tanpa “bra” karena memang masih kanak-kanak.

            “Benarkah reruntuhan barak dan bekas-bekas pengungsi Vietnam masih tersisa di Pulau Galang?” tanya saya lagi.
            “Saya tidak bisa cerita banyak kecuali Bapak mengunjunginya,” katanya.

            Ah Nguyen!

Saya coba mengingat lagi Nguyen di novel yang saya baca dan saya beli dari Pasar Palasari Bandung itu. Seorang gadis yang dengan sukarela menyerahkan kegadisannya kepada pria pribumi, yakni si tokoh aku, seorang perjaka “toloheor” (kata orang Sunda) alias play boy berat. “Aku yakin semua gadis Vietnam sudah tidak perawan bahkan sebelum sampai ke Pulau Galang. Apalagi setelah sampai di Pulau Galang, gadis pengungsi Vietnam biasa menyerahkan tubuhnya kepada penguasa untuk menjaga kelangsungan hidupnya,” demikian kira-kira si tokoh aku berprasangka.

Si tokoh aku hanya main-main saja mencintai Nguyen, sebaliknya Nguyen mencintai si aku, pria Indonesia itu, dengan tulus. Si pria Indonesia sudah terlalu sering gonta-ganti perempuan, dan masih menganggap Nguyen “korban berikutnya”. Waktu pun tiba, dalam kesenyapan malam dan temaram bulan yang menyelinap hutan Pulau Galang, si pria Indonesia bergumam setelah melampiaskan hasratnya. “Nguyen, rupanya kau masih perawan!” Dan Nguyen hanya bisa terisak…

Nah, itulah novel. Tetapi beberapa saat lagi, saya akan segera menemui jejak-jejak maya Nguyen, sebuah sosok entah ada entah tiada, hanya penulis novel itu sendiri yang tahu. Apa pedulinya. Yang jelas, saya akan segera berkunjung ke Pulau Galang yang pada tahun 1979 dijadikan tempat berlabuh ribuan pengungsi Vietnam akibat prahara politik di sana. Di benak saya, Nguyen “masih hidup” dan ada di pulau itu.

Saya sepakat begitu saja untuk menyewa sebuah mobil travel seharga Rp 600.000 plus sopir. Kapasitas mobil itu 14 sampai 17 orang. Tetapi, saat mobil mulai melesat menuju jalan lurus dan mulus menuju Pulau Galang, hanya terisi tiga orang saja. Saya, istri saya, dan sopir bernama John. Setidak-tidaknya itulah yang tertulis di kartu namanya. Padahal nama aslinya Ahmad Furqon.

            “Saya tidak tahu panggilan saya John, tetapi dulu guru SMP saya sering memanggil saya John,” kata Furqon, eh… John, saat mobil masih terhadang satu lampu lalu lintas di Jalan Imam Bonjol, Batam.
            “Nah, kita siap-siap menuju Jembatan Barelang sebelum singgah ke Pulau Galang,” kata John.
            “Apa istimewanya sebuah jembatan?” Tanya saya.
            “Bukan ‘sebuah’, enam jambatan, Pak.”

Enam, sepuluh, seratus, berapapun jumlahnya jembatan sama saja… gumam hati saya saat duduk di samping kiri John. John mengemudi agak serabutan. Istri saya di belakang terperangkap kantuk akibat AC mobil yang sejuk, sementara di luar udara amat menyengat, padahal baru pukul 10.00, Selasa, 20 Mei 2008 lalu.

            “Jembatan ini sekarang menjadi simbol Batam, Pak, bukan pabrik lagi,” katanya. Diam-siam saya keluarkan ponsel internet saya, menelusur di Google Mobile dan memasukkan kata kunci “Jembatan Barelang”. Got it! Saat John berceloteh tentang jembatan itu, saya sudah langsung memahaminya hanya lewat ponsel internet di telapak tangan. Terima kasih, teknologi informasi!

            “Jembatan itu dibangun atas ide dan inisiatif Pak Habibie ‘kan, John?”
            John menoleh, “Kok Bapak Tahu?”
            “Mulai dibangun tahun 1992 dan orang Batam menyebutnya ‘Jembatan Habibie’!”
            “Ah, Bapak malah lebih tahu!”

Saya tertawa ngakak, entah mengagumi teknologi internet atau menertawakan ketidaktahuan John kalau saya tengah berselancar melalui ponsel berinternet. Saya yakinkan John bahwa meskipun tahu sejarahnya, tetapi belum tahu ujudnya.
            “Sekarang saya ingin tahu ‘wajah’ jembatan itu,” kata saya.
            “Cantik, Pak, kita segera menuju ke sana…”

(bersambung)

sumber: kompas.com (Wartawan Kompas Pepih Nugraha )

Posted in Satu Kata, Sosial & Budaya | Tagged: , , | Leave a Comment »

Para Pemenang Blog Favorit Pesta Blogger 2007

Posted by frasa on October 29, 2007

NIh bagi yg suka ngeBlog, acuan blog2 favorit pemirsa… lumayan juga buat lirik2.. kali ntar bisa ikutan taun 2008 he he he 

Sumber – http://pestablogger.com/2007/10/28/para-pemenang-blog-favorit-pesta-blogger-2007/ 

Selamat untuk para pemenang Blog Favorit Pesta Blogger 2007! Mereka dinominasikan oleh para bloggers, dan dipilih lagi sebagai yang terfavorit oleh para bloggers yang hadir pada Pesta Blogger 2007 kemarin.

Dan para pemenangnya adalah:

  1. Kategori online marketing dan sales: Media Ide Bajing Loncat
  2. Kategori women’s issues: Fashionese Daily
  3. Kategori blog teknologi: Ilmu Komputer.com
  4. Kategori blog personal: Istri Bawel
  5. Kategori blog selebriti: Jennie S. Bev
  6. Kategori current issues: Perspektif. net
  7. Kategori bridge blogging: Enda Nasution
  8. Kategori pendatang baru terbaik: Lidya Wangsa

Pemenang untuk kategori pendatang baru terbaik mendapatkan hadiah berupa Nokia N73 Music Edition.

Sebelum meninggalkan panggung setelah acara talkshow selesai, Menkominfo Muhammad Nuh sempat mengatakan bahwa siapa pun yang mendapat suara terbanyak dalam pemilihan nanti berhak atas sebuah laptop dari Depkominfo. Ternyata, di akhir acara, yang mendapatkan suara terbanyak dalam pemilihan tersebut adalah Enda Nasution (48 poin), tetapi ia menyerahkan kemenangannya itu kepada blogger yang meraih suara kedua terbanyak, yakni Media Ide Bajing Loncat (41 poin).

Selamat untuk para pemenang!

Posted in Satu Kata | Leave a Comment »

Anak Gunung Krakatau

Posted by frasa on October 29, 2007

Letusan yang Melegenda
(kompas – TEROPONG – Senin, 07 Juli 2003  )

PUKUL 10.20, 27 Agustus 1883, terdengar suara dentuman hebat dari arah Selat Sunda. Dentuman hebat itu kemudian disusul dengan semburan debu vulkanis setinggi 80 kilometer.

Gunung Krakatau yang terletak di perairan laut antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera meletus. Letusan ini tercatat dalam The Guiness Book of Records sebagai “the most powerful recorded explosion in history”.

Dentumannya terdengar hingga jarak 4.500 kilometer jauhnya dari pusat ledakan di Selat Sunda. Catatan rekor lain menyangkut lenyapnya nyawa manusia, gara-gara tsunami atau gelombang pasang yang ditimbulkan.

Konon, inilah suara paling keras yang pernah terjadi di dunia hingga saat ini, kurang lebih setara dengan 21.547,6 kali letusan bom atom. Semburan materi Gunung Krakatau berjatuhan menutupi daerah seluas 800.000 kilometer persegi. Selama 3 hari penuh Pulau Jawa dan Sumatera tertutup hujan abu.

Lokasi Krakatau di tengah lautan membawa bencana tsunami dan air bah menerjang pantai-pantai Teluk Betung, Lampung, serta pesisir Jawa Barat, dari Merak sampai Ujungkulon. Air laut naik sampai 30 meter menerjang dan menghancurkan desa- desa pantai.

Di Ujungkulon, air bah masuk sampai sekitar 15 kilometer ke arah darat. Diperkirakan, 36.000 orang meninggal dunia akibat letusan hebat ini.

Tsunami itu juga menimbulkan kerusakan parah di Hawaii dan menerpa pantai barat Amerika Tengah. Empasan gelombang menjalar sampai ke Semenanjung Arab, 7.000 kilometer lebih jauhnya dari pusat ledakan.

SEBELUM letusan tahun 1883 itu, wilayah Krakatau merupakan sebuah kelompok pulau yang terdiri atas Pulau Sertung, Pulau Rakata Kecil, dan Pulau Rakata sebagai pulau utama dengan tiga gunung api aktif, yaitu Gunung Rakata, Gunung Danan, dan Gunung Perbuatan.

Gunung Krakatau purba, seperti disebutkan dalam Javanese Book of Kings, mempunyai ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Lingkaran pantainya mencapai 11 kilometer.

Ledakannya yang dahsyat sekitar tahun 416 Masehi mengakibatkan tiga perempat tubuhnya hancur dan menyisakan tiga gugusan pulau. Ketiga pulau itu adalah Pulau Rakata, Sertung, Panjang, dan sebuah kaldera di tengahnya.

Sebelum tahun 1883, muncul aktivitas vulkanis baru, yaitu dengan munculnya Gunung Danan dan Gunung Perbuatan yang perlahan- lahan akhirnya saling menyatu dengan Pulau Rakata. Penyatuan dari ketiga pulau ini kemudian lebih sering disebut sebagai Gunung Krakatau saja.

Pada tahun 1880, yang disebut masa strombolian, aktivitas vulkanis berlangsung selama beberapa bulan, dan Gunung Perbuatan aktif mengeluarkan lava. Setelah periode itu, tidak ada aktivitas vulkanis hingga akhirnya muncul tanda akan adanya letusan pada bulan Mei 1883.

Akhirnya, 27 Agustus 1883, Krakatau meletus dan menghancurkan kehidupan yang terdapat di kawasan ini. Letusan itu juga melenyapkan Gunung Danan dan Gunung Perbuatan dari muka bumi.

Tetapi, letusan itu masih menyisakan tiga daratan, masing-masing Pulau Rakata atau disebut Pulau Krakatau Besar, Pulau Sertung, dan Pulau Panjang. Sebuah kaldera yang tenggelam di laut ada di tengah ketiga pulau.

Sampai kemudian, pada tahun 1927, muncul sebuah pulau baru di tengah-tengah tiga pulau di kaldera itu. Pulau yang kemudian diketahui vulkanis aktif ini dinamakan Gunung Anak Krakatau.

Anak ini terus tumbuh, semakin tinggi. Material yang ke luar dari perut gunung baru ini terus membuat ketinggiannya bertambah. Saat ini, diperkirakan ketinggiannya mencapai sekitar 230 meter di atas permukaan laut.

Raksasa kecil ini terus aktif dan terus mempertinggi tubuhnya dengan tambahan sekitar empat sentimeter setiap tahun. Entah kapan anak ini akan mendapatkan energi sebesar induknya dahulu hala, untuk kembali dimuntahkan…. (B04)

Posted in Satu Kata, Sosial & Budaya | Tagged: , , , , , , , , | Leave a Comment »

Setelah Lebaran

Posted by frasa on October 18, 2007

Hari ini H+5 lebaran ..
Jalanan lancar.. ngga ada pamer paha.. pamer susu pamer-pamer(padat merayap) lainya.
Coba hari2 biasa lancarnya kayak gini.. di jamin ngga telat dan dan masih fresh nyampe kantor..

Suasa lebaran di jakarta biasa-biasa saja.. bagi saya yang punya kampung memang kadang ada kesedihan terasa.. karena tidak bisa bertemu orang tua dan saudara-saudara lainya..

Sementara bagi istri saya yang tidak punya kampung (asli jakarta) tetap ada kesedihan karena melihat temen-temen yang lain pada pulang kampung dan bergembira bisa ketemu dengan sanak saudara.

Hari pertama lebaran saya dan keluarga dirumah mertua, karena mertua laki anak tua jadi saudara yang lain pada dateng kerumah, dari pagi sampe sore kita hanya menunggu keluarga dirumah.. dan silahturahmi dengan tetangga deket rumah.. sore menjlang malam baru kita lebaran ke saudara…

lebaran kedua masih sama lebaran ke saudara masih di dalam kota jakarta.. sementara anak-anak minta ke Ancol, Ragunan dan tempat wisata lainya.. karena saya baca berita di media internet.. tempat wisata pada penuh dan mencatat rekor pengunjung… mending kita lebaran deket-deket rumah aja..

Lebaran ketiga srenya baru ajak anak-anak jalan ke Monas .. murah meriah. tapi tetap saja pengunjungnya membludak.. sampe ke atas-atas.. tapi masih ada aja monyet-monyet nyari kutu di bawah pohon-pohon taman yang ada di monas.. meski hanya duduk-duduk dan makan.. sambil liatin anak-anak main bolah dan main layangan.. kita juga merasa puas lihat anak senang.. sementara anak yg kecil malah ketiduran di kereta dorongnya..

Akhirnya lebaran lewat sudah.. semoga amal ibadah selama puasa bisa di terima Allah STW .. amin.

Posted in Satu Kata | Leave a Comment »

Sampaikan kebenaran itu mesti satu kata (ayat)

Posted by frasa on October 18, 2007

Saya hanya ingin menyampai kata yang tak sempat di ucapkan kayu kepada api yang menjadikanya abu..

Posted in Satu Kata | Tagged: , , , , , , , , | 1 Comment »