Satu Kata

Hanya Satu Kata

Archive for the ‘Sosial & Budaya’ Category

Hari pertama sekolah

Posted by frasa on July 17, 2008

Ngga terasa zea uda SD,
ya.. putri saya yg pertama memang sudah SD.. mulai dari hari pendaftaran dia memang sudah antusias, katanya sudah bosan di TK (karena uda 2 thn kali).

Sekolah pilihannya adalah sekolah negeri unggulan (SSN = Sekolah standar nasional) di daerah saya, jadi untuk tahun ini penerimaan di batasi 105 murid atau 3 kelas saja.
Karena batasan tersebut dan saking banyaknya pendaftar sekolah mengadakan test masuk sekolah padahal untuk SD di sekitarnya kalau daftar bisa di pastikan lansung diterimah.. karena takut anaknya ngga diterimah kami mendaftarkan putri kami di dua sekolah.. yg utama tetap sekolah pilihanya karena temen2 nya banyak disana.

Alhamdulillah dia bisa diterima di sekolah pilihanya.. sepertinya dia sudah ngga sabaran mulai hari pertama sekolah.. sampai menghitung hari.. dan berputar2 di kaca nyobain seragam putih merahnya..

saya dan istri hanya tersenyum melihat kebahagiannya.. dalam hati saya bergumam ngga terasa anak kami sudah SD.. ngga terasa sudah 7 tahun kami menikah..

Bersyukurla kita yang masih bisa melihat anak kita bisa melangkah sekolah dengan senangnya..
karena ternyata masih banyak di sekitar kita yang masih kesulitan menyekolahkan anaknya.. karena banyak sekolah yang memungut biaya masuk atau biaya baju seragam, biaya pendidikan serta buku paket dsb nya.. yang bagi sebagian orang sulit untuk memenuhi kebutuhan tersebut.. untuk ukuran anak yang sudah dewasa mungkin dia mengerti kalau di jelaskan orang tuanya kalau dia kesulitan keuangan.. tapi utk anak yang masih 6 – 7 thn.. dia taunya ingin sekolah seperti temen2nya

Jadi bagi saudara sekalian yang punya rezki lebih mungkin bisa berbagi dgn tetangga utk meringankan beban mereka terutama anak2 yang sangat membutuhkan pendidikan… marilah mulai dari sekitar kita.. alankah indah nya bila kita berbagi

Posted in Satu Kata, Sosial & Budaya | Tagged: , | Leave a Comment »

kompas.com : Apa yg menarik di batam(1)

Posted by frasa on May 23, 2008

COASTARINABerikut artikel tentang batam yg saya sadur dari kompas.com, ya bagi yg ingin tahu tentang batam mungkin disini bisa lihat gambaranya sedikit… wah jadi pengen pulang ke batam nih he he..

Berkunjung Ke Pulau “Nguyen”“Dimana tempat wisata terkenal di Batam ini?” Itu pertanyaan pertama yang saya lontarkan pada resepsionis di Hotel Nagoya Plaza. Saya berharap mendapat jawaban yang memuaskan karena saya hanya punya satu hari saja di Batam. Tetapi si resepsionis malah bertanya, “Aduh, dimana ya?”Kalau Anda ke Batam, mungkin akan kesulitan mencari brosur tempat wisata mana yang baik buat city tour. Untunglah saat berkunjung ke Patria Tour yang masih bersebelahan dan bahkan satu atap dengan Hotel Nagoya Plaza, dua gadis belia yang saya temui dengan responsif menjelaskan kemungkinan saya berkunjung ke Barelang. Itu bukan saudara kembar “belerang”, tetapi singkatan dari Batam-Rempang-Galang. Dulu tiga pulau yang berdekatan ini bagian dari Provinsi Riau, tetapi setelah pemekaran kini masuk ke Provinsi Kepulauan Riau.

 

 

            “Pulau Galang?” Tanya saya.
            “Benar. Pulau Galang. Di sana Bapak bisa menemukan barak bekas pengungsi Vietnam, dimana sebelumnya Bapak akan melewati enam Jembatan Balerang,” jawabnya langsung ke sasaran.

Ah, Pulau Galang. Pengungsi Vietnam. Sejenak ingatan melayang ke masa lalu, 23 tahun lalu. Saat duduk di bangku perguruan tinggi, saya pernah membaca sebuah novel bersampul merah dengan judul, kalau tidak keliru, “Mendung Di Atas Vietnam” Saya lupa siapa penulisnya. Judulnya pun mungkin tidak tepat begitu. Tetapi isi ceritanya yang masih saya ingat benar sampai sekarang!

 

Novel lawas itu bercerita tentang pengorbanan cinta gadis belia pengungsi Vietnam bernama Nguyen yang terdampar di Pulau Galang, sebuah pulau berjarak kurang lebih 80 kilometer dari Pulau Batam. Nguyen telah kehilangan semua saudara-sadara dekatnya karena dibantai rezim komunis saat itu. Ia diselamatkan tetangganya dan dinaikkan ke kapal kecil, lebih tepat disebut tongkang kayu, untuk berlayar tanpa tujuan asalkan bisa keluar dari neraka Vietnam.

Nguyen. Kalau saja saat itu si pengarang tahu wajah aktris Malaysia Michelle Yeoh, mungkin ia akan sepikiran dengan Andrea Hirata dalam menggambarkan Nguyen sebagai si cantik Yeoh. Tapi saat novel itu disusun, Yeoh mungkin masih mengenakan celana monyet atau kemana-mana tanpa “bra” karena memang masih kanak-kanak.

            “Benarkah reruntuhan barak dan bekas-bekas pengungsi Vietnam masih tersisa di Pulau Galang?” tanya saya lagi.
            “Saya tidak bisa cerita banyak kecuali Bapak mengunjunginya,” katanya.

            Ah Nguyen!

Saya coba mengingat lagi Nguyen di novel yang saya baca dan saya beli dari Pasar Palasari Bandung itu. Seorang gadis yang dengan sukarela menyerahkan kegadisannya kepada pria pribumi, yakni si tokoh aku, seorang perjaka “toloheor” (kata orang Sunda) alias play boy berat. “Aku yakin semua gadis Vietnam sudah tidak perawan bahkan sebelum sampai ke Pulau Galang. Apalagi setelah sampai di Pulau Galang, gadis pengungsi Vietnam biasa menyerahkan tubuhnya kepada penguasa untuk menjaga kelangsungan hidupnya,” demikian kira-kira si tokoh aku berprasangka.

Si tokoh aku hanya main-main saja mencintai Nguyen, sebaliknya Nguyen mencintai si aku, pria Indonesia itu, dengan tulus. Si pria Indonesia sudah terlalu sering gonta-ganti perempuan, dan masih menganggap Nguyen “korban berikutnya”. Waktu pun tiba, dalam kesenyapan malam dan temaram bulan yang menyelinap hutan Pulau Galang, si pria Indonesia bergumam setelah melampiaskan hasratnya. “Nguyen, rupanya kau masih perawan!” Dan Nguyen hanya bisa terisak…

Nah, itulah novel. Tetapi beberapa saat lagi, saya akan segera menemui jejak-jejak maya Nguyen, sebuah sosok entah ada entah tiada, hanya penulis novel itu sendiri yang tahu. Apa pedulinya. Yang jelas, saya akan segera berkunjung ke Pulau Galang yang pada tahun 1979 dijadikan tempat berlabuh ribuan pengungsi Vietnam akibat prahara politik di sana. Di benak saya, Nguyen “masih hidup” dan ada di pulau itu.

Saya sepakat begitu saja untuk menyewa sebuah mobil travel seharga Rp 600.000 plus sopir. Kapasitas mobil itu 14 sampai 17 orang. Tetapi, saat mobil mulai melesat menuju jalan lurus dan mulus menuju Pulau Galang, hanya terisi tiga orang saja. Saya, istri saya, dan sopir bernama John. Setidak-tidaknya itulah yang tertulis di kartu namanya. Padahal nama aslinya Ahmad Furqon.

            “Saya tidak tahu panggilan saya John, tetapi dulu guru SMP saya sering memanggil saya John,” kata Furqon, eh… John, saat mobil masih terhadang satu lampu lalu lintas di Jalan Imam Bonjol, Batam.
            “Nah, kita siap-siap menuju Jembatan Barelang sebelum singgah ke Pulau Galang,” kata John.
            “Apa istimewanya sebuah jembatan?” Tanya saya.
            “Bukan ‘sebuah’, enam jambatan, Pak.”

Enam, sepuluh, seratus, berapapun jumlahnya jembatan sama saja… gumam hati saya saat duduk di samping kiri John. John mengemudi agak serabutan. Istri saya di belakang terperangkap kantuk akibat AC mobil yang sejuk, sementara di luar udara amat menyengat, padahal baru pukul 10.00, Selasa, 20 Mei 2008 lalu.

            “Jembatan ini sekarang menjadi simbol Batam, Pak, bukan pabrik lagi,” katanya. Diam-siam saya keluarkan ponsel internet saya, menelusur di Google Mobile dan memasukkan kata kunci “Jembatan Barelang”. Got it! Saat John berceloteh tentang jembatan itu, saya sudah langsung memahaminya hanya lewat ponsel internet di telapak tangan. Terima kasih, teknologi informasi!

            “Jembatan itu dibangun atas ide dan inisiatif Pak Habibie ‘kan, John?”
            John menoleh, “Kok Bapak Tahu?”
            “Mulai dibangun tahun 1992 dan orang Batam menyebutnya ‘Jembatan Habibie’!”
            “Ah, Bapak malah lebih tahu!”

Saya tertawa ngakak, entah mengagumi teknologi internet atau menertawakan ketidaktahuan John kalau saya tengah berselancar melalui ponsel berinternet. Saya yakinkan John bahwa meskipun tahu sejarahnya, tetapi belum tahu ujudnya.
            “Sekarang saya ingin tahu ‘wajah’ jembatan itu,” kata saya.
            “Cantik, Pak, kita segera menuju ke sana…”

(bersambung)

sumber: kompas.com (Wartawan Kompas Pepih Nugraha )

Posted in Satu Kata, Sosial & Budaya | Tagged: , , | Leave a Comment »

Satu Jam di Warnet

Posted by frasa on February 10, 2008

Hari ini saya ngantar istri dan anak belanja, karena malas nemenin.. say amau ngantar aja terus pulang.. tapi anak saya minta jemput lagi ntar kalau uda kelar.. capek dee.

Karena uda jarang banget kewarnet.. 2 thn ini baru kali ini kayaknya.. pas masuk.. dipersilahkan duduk.. tau nya komp nyalain sendiri..setelah download OS keluar window user utk login… mulai de..

Kelar baca berita bola.. liat klasamen terutama liga inggris.. baca berita nasional… luar negeri.. bingung dah ngapain waktu masih lama.. akhirnya nge-blog da.. bla bla

ngga tau nih warnet rada sepi.. kebanyakan yg dateng kayaknya langganan yang biasa main game disini.. game yang disediain lumayan banyak.. komplit.. cuma ngga ad AOE.. karena saya jagonya itu.. yg lain mah.. ngga perna main… tau sih..

ngga terasa uda hampir satu jam.. lumayan bayar goceng.. katanya main 1 jam gratis satu jam.. tapi uda ah… he he he

Posted in Sosial & Budaya | Leave a Comment »

Anak Gunung Krakatau

Posted by frasa on October 29, 2007

Letusan yang Melegenda
(kompas – TEROPONG – Senin, 07 Juli 2003  )

PUKUL 10.20, 27 Agustus 1883, terdengar suara dentuman hebat dari arah Selat Sunda. Dentuman hebat itu kemudian disusul dengan semburan debu vulkanis setinggi 80 kilometer.

Gunung Krakatau yang terletak di perairan laut antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera meletus. Letusan ini tercatat dalam The Guiness Book of Records sebagai “the most powerful recorded explosion in history”.

Dentumannya terdengar hingga jarak 4.500 kilometer jauhnya dari pusat ledakan di Selat Sunda. Catatan rekor lain menyangkut lenyapnya nyawa manusia, gara-gara tsunami atau gelombang pasang yang ditimbulkan.

Konon, inilah suara paling keras yang pernah terjadi di dunia hingga saat ini, kurang lebih setara dengan 21.547,6 kali letusan bom atom. Semburan materi Gunung Krakatau berjatuhan menutupi daerah seluas 800.000 kilometer persegi. Selama 3 hari penuh Pulau Jawa dan Sumatera tertutup hujan abu.

Lokasi Krakatau di tengah lautan membawa bencana tsunami dan air bah menerjang pantai-pantai Teluk Betung, Lampung, serta pesisir Jawa Barat, dari Merak sampai Ujungkulon. Air laut naik sampai 30 meter menerjang dan menghancurkan desa- desa pantai.

Di Ujungkulon, air bah masuk sampai sekitar 15 kilometer ke arah darat. Diperkirakan, 36.000 orang meninggal dunia akibat letusan hebat ini.

Tsunami itu juga menimbulkan kerusakan parah di Hawaii dan menerpa pantai barat Amerika Tengah. Empasan gelombang menjalar sampai ke Semenanjung Arab, 7.000 kilometer lebih jauhnya dari pusat ledakan.

SEBELUM letusan tahun 1883 itu, wilayah Krakatau merupakan sebuah kelompok pulau yang terdiri atas Pulau Sertung, Pulau Rakata Kecil, dan Pulau Rakata sebagai pulau utama dengan tiga gunung api aktif, yaitu Gunung Rakata, Gunung Danan, dan Gunung Perbuatan.

Gunung Krakatau purba, seperti disebutkan dalam Javanese Book of Kings, mempunyai ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Lingkaran pantainya mencapai 11 kilometer.

Ledakannya yang dahsyat sekitar tahun 416 Masehi mengakibatkan tiga perempat tubuhnya hancur dan menyisakan tiga gugusan pulau. Ketiga pulau itu adalah Pulau Rakata, Sertung, Panjang, dan sebuah kaldera di tengahnya.

Sebelum tahun 1883, muncul aktivitas vulkanis baru, yaitu dengan munculnya Gunung Danan dan Gunung Perbuatan yang perlahan- lahan akhirnya saling menyatu dengan Pulau Rakata. Penyatuan dari ketiga pulau ini kemudian lebih sering disebut sebagai Gunung Krakatau saja.

Pada tahun 1880, yang disebut masa strombolian, aktivitas vulkanis berlangsung selama beberapa bulan, dan Gunung Perbuatan aktif mengeluarkan lava. Setelah periode itu, tidak ada aktivitas vulkanis hingga akhirnya muncul tanda akan adanya letusan pada bulan Mei 1883.

Akhirnya, 27 Agustus 1883, Krakatau meletus dan menghancurkan kehidupan yang terdapat di kawasan ini. Letusan itu juga melenyapkan Gunung Danan dan Gunung Perbuatan dari muka bumi.

Tetapi, letusan itu masih menyisakan tiga daratan, masing-masing Pulau Rakata atau disebut Pulau Krakatau Besar, Pulau Sertung, dan Pulau Panjang. Sebuah kaldera yang tenggelam di laut ada di tengah ketiga pulau.

Sampai kemudian, pada tahun 1927, muncul sebuah pulau baru di tengah-tengah tiga pulau di kaldera itu. Pulau yang kemudian diketahui vulkanis aktif ini dinamakan Gunung Anak Krakatau.

Anak ini terus tumbuh, semakin tinggi. Material yang ke luar dari perut gunung baru ini terus membuat ketinggiannya bertambah. Saat ini, diperkirakan ketinggiannya mencapai sekitar 230 meter di atas permukaan laut.

Raksasa kecil ini terus aktif dan terus mempertinggi tubuhnya dengan tambahan sekitar empat sentimeter setiap tahun. Entah kapan anak ini akan mendapatkan energi sebesar induknya dahulu hala, untuk kembali dimuntahkan…. (B04)

Posted in Satu Kata, Sosial & Budaya | Tagged: , , , , , , , , | Leave a Comment »